Depi Endang Sulastri

Penulis adalah Alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Surakarta (2017). Saat ini, penulis tengah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (P...

Selengkapnya
Seorang Asmara Jati #5

Seorang Asmara Jati #5

Layar telepon menyala.

"Sudah sampai mana?" Pesan Asmara Jati.

"Masih di stasiun." Balas Ratri singkat.

Tidak ada pesan balasan kembali.

7 Maret adalah kepulangan dan pengambilan keputusan besar. Ratri sudah tersadar begitu banyak kesalahan yang telah dia lakukan. Ya. Pulang adalah pilihan terbaik.

Ratri sibuk ngescrool status story media sosial.

Asmara Jati muncul di paling atas. Dibuka status, Ratri terkaget.

"Orang begitu bahagia gitu kok, bilang ndak bahagia," gerutunya.

Seorang laki-laki dan perempuan terlihat tengah bercanda tawa dengan seorang anak kecil. Tawa mereka pecah. Hati Ratri terbelah.

"Baiklah, kalau dia bahagia, saya harus lebih bahagia," tegasnya.

Kemudian Ratri unggah beberapa foto dirinya. Yang seharusnya tidak ia lakukan. Ia dibutakan hawa pembalasan. Dia ingin menunjukkan kepada Asmara Jati bahwa dirinya tidak sedang kenapa-kenapa lantaran Asmara Jati sudah kembali pada Satrio Gumelar.

"Sudah cukup," ucap Ratri.

"Apanya?" Asmara Jati menjawab dalam angan-angan Ratri.

"Permainan Api ini!"

"Kenapa?"

"Aku sakit, aku cemburu, kamu tidak peduli!"

"Hahaha. Dasar bodoh!" Satrio Gumelar menjawab.

"Kan sudah kubilang, jangan pakai perasaan Neng, lucu kamu itu. Tapi kok saya kasihan ya sama kamu. Kamu terlalu idealis!" Serang Satrio.

"Tapi lembut, penyayang, penyabar, mudah bergaul, dan sayang anak-anak. Tapi, sayang kamu bodoh! Tolol! Dasar anak bau kencur!

Ratri terbangun dari khayalnya.

"Saya akan kembali dan mengakhiri," kepalnya.

Ratri kemudian mencari kontak seorang teman yang masih satu daerah dengan Asmara Jati.

Dia mengirim screenshoot status Asmara Jatu kepada temannya.

"Allaah maha baik, yaa. Aku selalu berdoa, semoga mereka bahagia. Tapi, kok hatiku juga nyesek, ya My?"

"Kamu sudah jatuh cinta padanya," balas Amy.

"Bukankah ini yang selalu aku langitkan, ya. Tetapi aku pengen nangis My."

"Nangis aja. Toh dia juga ndak akan peduli."

Dan tangis Ratri pecah beserta keberaniannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Apakah ini balada cinta bertepuk sebelah tangan? Ditunggu lanjutan ceritanya. Salam literasi...

15 Apr
Balas

Waah, sepertinya ibu noerhayati mengikuti. Siapp. Akan segera rilis

15 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali